Minggu, 08 April 2012


Etika Surgawi/T ahbisan Allah

 Oleh : Pdt Peter BS/HM

Tahbisan adalah suatu etika atau tata cara surgawi yang ditetapkan dan diresmikan Allah, dalam hal peribadatan. Tahbisan merupakan  sistim birokrasi surgawi yang tidak bisa ditinggalkan apabila seseorang ingin hidup dalam lingkup kerajaan Allah. Dengan tahbisan yang benar seseorang akan memperoleh hak dan kewenangan surgawi. Baik dalam hal mujijat, kuasa, berkat-berkat dan segala macam fasilitas dan kemuliaan surgawi.

          Tahbisan juga merupakan suatu herarki surgawi, sistem pemerintahan surga yang tersalur melalui ibadah Kristiani. Dan ini sangat perlu dipahami oleh orang Kristen dewasa ini. Karena saat ini banyak orang yang menggebu beribadah, mengikuti persekutuan/kebaktian di berbagai tempat, tetapi sama kurang bisa memahami herarki kepemimpinan Allah.

          Sebagai suatu ilustrasi, misalnya seseorang ingin menghadap raja untuk meminta pertolongan. Maka sebelumnya orang tersebut harus menempuh syarat-syarat tertentu, dan permisi kepada pejabat-pejabat kerajaan. Tidak boleh seseorang dengan sembarangan mengadap sang raja.

TAHBISAN HAMBA ALLAH

          Jika berbicara mengenai kerajaan Allah, maka kita bukan membicarakan masalah pemerintahan dunia, melainkan kita berbicara masalah ibadah. Sebab sistim kepemimpinan Allah dinyatakan lewat ibadah.

          Jika di dunia ini kita mengenal adanya Raja, dan para pejabat kerajaan. Maka di dalam kerajaan Surga, dalam sistim pemerintahan surgawi juga ada pejabat-pejabat kerajaan. Dia, Allah memerintah sebagai Raja, kemudian Dia juga melantik pejabat-pejabat kerajaan surga. Dan sekali lagi kalau kita berbicara masalah Kerajaan Surga, berarti kita berbicara masalah ibadah. Karena pemerintahan surgawi diwujudkan oleh Allah dalam satu cara yang disebut ibadah.

Dalam Al Kitab Allah mengangkat pejabat-pejabat kerajaan surga, antara lain ;Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, dan Pengajar (guru).

Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul, maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil, maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlenglapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan  bagi pembangunan Tubuh Kristus. ( Efesus 4;11-12 )

          Inilah lima jabatan surgawi yang ditetapkan,dilantik dan ditahbis oleh Allah. Para pejabat surgawi ini urusannya adalah penyelenggara ibadah, dan sebagai penyalur aspirasi Allah. Kelima jabatan ini adalah jabatan-jabatan utama yang disandang hamba-hamba Allah.

          Lewat pengertian tahbisan dan herarki surgawi ini, orang Kristen akan menjadi semakin santun  dalam beribadah. Jika seseorang ingin menghadap Allah, ingin memohon sesuatu, maka sangat tepat kiranya orang Kristen  menghadap dahulu kepada para perjabat surga ini. Sebab kerajaan Allah adalah kerajaan yang sangat tertib dan memiliki herarki kepemimpinan yang jelas.

          Dengan memahami herarki surga ini, harkat dan martabat Hamba Allah akan terangkat. Dan sebaliknya jemaat yang mau tertib dalam menempuh jalur birokrasi surgawi akan secepatnya mendapatkan pertolongan dan jawaban dari Allah.

          Seorang Hamba Allah memiliki tanggung jawab penuh atas pelayanannya. Atas terselenggaranya pemerintahan surgawi lewat satu cara yang namanya ibadah.

          Pada jaman Taurat digambarkan betapa tertibnya suasana kerajaan Allah yang diselenggarakan lewat ibadah Bait Suci/Tabernakel. Setiap jemaat yang mendapat persoalan berat atau ingin bertobat,atau ingin mempersembahlan segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah, maka orang tersebut harus datang kepada imam. Dan imam itu akan melayani  jemaat dengan segala keperluan dan hajatnya kepada Allah.

          Demikian pula pada jaman ini kegenapan/kesempurnaan dari gambaran yang dilukiskan lewat ibadah secara Taurat tersebut, Allah juga melantik imam-imam Perjanjian Baru dengan Tuhan Yesus sebagai Imam Besar;

Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus , Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita denga penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan kita pada waktunya. ( Ibrani 4;14-16 )

          Jadi untuk datang kepada Allah ke tahta Kasih KaruniaNya kita memerlukan pelayanan imam. Dan Allah menetapkan Yesus sebagai Imam Besar dan hamba-hambaNya sebagai imam-imam kecil, seperti ditetapkan dalam Efesus 4;11-12.

          Imam-imam kecil atau para hamba Allah dengan kelima jabatan inilah yang senantiasa berhadap-hadapan dengan umat Kristen secara langsung. Imam-imam inilah yang memberikan pelayanan surgawi setiap kali menyelenggarakan ibadah.

          Allah itu sangat tertib dan tidak akan kacau dalam mengatur sistim pelayanan dalam kerajaanNya. Allah akan menyerahkan amanat/wewenang kepada Imam Besar/Tuhan Yesus. Dan Tuhan Yesus akan menyerahkan amanatNya kepada hamba-hamba Allah lewat kelima jabatannya ( imam-imam kecil ), dan hamba Allah akan meneruskan segala amanat yang diembannya kepada seluruh jemaat Kristen. Demikianlah sistim kepemimpinan yang ditetapkan dan ditahbis oleh Allah.

          Sebaliknya bila jemaat Kristen menghadapi masalah atau menghendaki segala sesuatu maka harus datang kepada imam ( hamba Allah ), dan dalam persekutuan ibadah imam akan meneruskan beben-beben jemaat kepada Imam Besar Agung ( Yesus ). Dengan begitu sampailah segala permasalahan kepada Allah.

          Tetapi kadang, karena kebodohan atau belum mengerti tahbisan, maka orang sembarangan datang kepada Allah. Peranan imam atau hamba Allah yang keberadaannya ditetapkan Allah, diabaikan oleh jemaat. Ini adalah suatu kesombongan rohani yang seharusnya dihindarkan. Misalnya ada jemaat yang berkata ; “ ah , aku tanpa pelayanan Hamba Allah, aku bisa datang sendiri kepada Allah..” dengan berbagai alasannya. Ini adalah suatu pelecehan terhadap herarki surga. Dan Allah tidak akan berkenan, karena Allah tidak pernah mengingkari sistim herarki kepemimpinanNya.

          Allah melantik dan mentahbis hamba-hambaNya itu dengan maksud supaya hamba-hambaNya/para pejabat surga itu mengurusi keperluan jemaat Kristen. Dan supaya jemaat-jemaat itu mau diurusi oleh para pejabat surgawi tersebut. Ketertiban sistim kepemimpinan Allah ini pernah dinyatakan dalam Kitab Nabi Amos;

Sungguh Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusanNya kepada hamba-hambaNya, para nabi ( Amos 3; 7 )

          Dengan demikian bisa dipahami mengapa hamba-hamba Allah yang tahbisannya benar dan dilantik Allah itu selalu kaya dengan rahasia Firman Allah. Itu semua karena Allah mempercayakan segala rahasia kepada hambaNya. Dia tidak akan melangkahi hambaNya yang telah ditahbisnya. Kepada Hamba Allah yang berciri sedemikian hendaknya jemaat-jemaat Kristen menghargainya, sebab padanya ada Kuasa dan amanat Allah. Dan jangan sekali-kali melangkahi Hamba Allah yang berkarakter dan berciri sedemikian.

          Lewat bacaan ini terbukalah rahasia para pejabat kerajaan surga ( Efesus 4;11-12 ). Baik para pejabat yang benar maupun pejabat yang korup( nabi palsu ), akan terlihat lewat pengungkapan rahasia Firman ini.

          Sudahkah kita menghargai dan menempatkan seorang hamba Allah sebagai Pejabat Surga ? ataukah yang terjadi sebaliknya?. Apabila terjadi pelecehan terhadap Pejabat  Kerajaan Surga, maka tentu saja orang yang melecehkan akan berhadapan dengan kuasa Allah Yang Maha Dahsyat. Karena seorang hamba Allah tidak membawa tentara lahiriah, tetapi yang mengawalnya adalah tentara surgawi yang berwujud malaikat dan badai api kuasa Allah.

Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata ;” Yang membuat malaikat-malaikatNya menjadi badai dan pelayan-pelayanNya menjadi nyala api”( Ibrani 1;7 )

Bukankah mereka semua adalah  roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan ? ( Ibrami 1;14 )

         Oleh karena itu Rasul Paulus yang tahbisannya benar di hadapan Allah berani berkata keras dihadapan jemaatnya, sekalipun secara tubuh Rasul Paulus tidak hadir.

Sebab aku sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani, aku – sama seperti aku hadir – telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal semacam itu. ( 1 Korintus 5;3 )

Rasul Paulus pernah dilecehkan oleh jemaat Korintus (1 Korintus 4;6-21). Jemaat Korintus sombong terhadap Rasul Paulus. Merasa diri hebat, bahkan seolah-olah tidak memerlukan pelayanan Rasul Paulus lagi. Sebagai seorang Pejabat Kerajaan Surga Rasul Paulus merasa dihinakan oleh jemaat Korintus. Akibatnya sebagai bukti jabatan kerasulannya, dia mampu menggerakkan pasukan surgawi ( malaikat ) yang siap memberikan hukuman kepada orang yang melecehkan Herarki Surga.

HAK JEMAAT UNTUK MENDAPAT PELAYANAN

          Setelah jemaat mampu bersikap dan menempatkan diri dalam Tahbisan yang benar, dan menempatkan Hamba Allah pada kedudukannya maka jemaat akan mendapatkan hak-hak istimewa. Mendapat kemudahan untuk menghadap hadirat Allah, mendapat kemudahan untuk doa-doa dan permohonannya dikabulkan oleh Allah. Mendapatkan hak untuk memperoleh mujijat kesembuhan, maupun mujijat-mujijat berkat.

          Jemaat yang berhasil menempetkan Hamba Allah pada posisi yang tepat  adalah jemaat yang berhasil merendahkan diri dibawah kepemimpinan Allah. Tentunya melalui korban perasaan, harga diri, gengsi dan sebagainya yang memang terasa perih menurut perasaan daging sebagai manusia. Tetapi ini pada hakekatnya adalah jalan kemuliaan dan jalan salib.

          Dan sebagai gantinya, Allah akan mencurahkan berkat yang luar biasa dan ajaib. Jemaat akan dijadikan Domba Gembalaan Allah yang berkelimpahan dan berkemenangan. Inilah janji Tuhan terhadap jemaat yang berhasil merendahkan diri dalam herarki kepemimpinan Allah.

Tuhan adalah gembalaku ,takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku; Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya.. (  Mazmur 23; 1-6 )

Karena ketaatan dan kerendahan hati jemaat yang mau dipimpin dalam sistim herarki surga ini, firman Tuhan melukiskan seperti domba yang taat ,tunduk,patuh terhadap kepemimpinan gembala. Kemudian sebagai ganti dari ketaatan dan kepatuhannya itu domba akan mendapatkan kelimpahan ( ayat 1-2), ketenangan batin ( ayat 3), perlindungan ( ayat 4), diberkati didepan musuh ( ayat 5 ), kebajikan dan kemurahan ( ayat 6).

          Domba Allah adalah jemaat yang mau diurus atau dirawat oleh gembala ( Hamba Allah ). Domba yang tidak mau diurus atau dirawat oleh gembala adalah domba liar yang  akan sangat mudah dibantai oleh serigala dan singa, oleh Iblis yang mengaum-aum mencari mangsa. Sedangkan domba yang baik adalah domba yang taat pada herarki surga, yang mendengarkan perkataan gembala, dan kepadanya Allah siap mencurahkan berkat-berkat yang  ajaib.

HAK PARA PEJABAT SURGAWI

          Sekalipun pekerjaan para hamba Tuhan itu sangat berat, bahkan kadang-kadang terasa hina pada waktu perintisan, tetapi dibalik itu bagi orang-orang yang memahaminya pekerjaan Tuhan adalah penuh kemuliaan. Hamba-hamba Allah yang benar-benar melayani Tuhan akan disebut Pejabat Surgawi ,padanya penuh Kuasa dan Wibawa Allah, dan orang tidak akan bisa sembarangan memperlakukannya.

          Dahulu pada jaman Taurat orang yang dikhususkan melayani pekerjaan Allah adalah Bani Lewi.   Suku Lewi harus meninggalkan segala sesuatu yang bersifat duniawi, misalnya; pekerjaan, harta warisan dan sebagainya, sementara itu orang Lewi memiliki profesi dan pekerjaan khusus yaitu melayai Allah di Bait Suci. Karena pengorbanan yang besar inilah orang Lewi mendapatkan hak istimewa dari Allah.

          Kadang terjadi pelecehan terhadap Hamba Tuhan/Pejabat Surga, karena orang tidak pernah memahami penderitaan seorang Lewi/hamba Tuhan / Pejabat Surgawi  yang harus meninggalkan segalanya; pekerjaan, kenikmatan-kenikmatan duniawi dan sepenuhnya mengikuti Allah. Memberikan seluruh waktunya, tenaganya, pikirannya bahkan harta dan segalanya untuk kemuliaan Tuhan.

          Tetapi Allah di dalam keagungan kerajaanNya menetapkan Lewi/ Hamba Allah menjadi Pejabat KerajaanNya. Lewi tidak memiliki  harta pusaka warisan ditengah-tengah saudaranya. Tetapi orang Lewi mendapat warisan Istimewa dari Allah;

Mengenai bani Lewi sesungguhnya aku berikan kepada mereka segela persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan. ( Bilangan 18;21 )

          Lewi adalah penghubung antara jemaat dangan Allah. Suatu pekerjaan pelayanan khusus kepada Allah, sehingga Lewi tidak mendapat harta warisan dari kaum keluarganya. Pekerjaannya semata-mata adalah Pelayanan di Bait Suci.

          Kemudian dalam Perjanjian Baru sekarang ini Lewi menunjuk kepada Hamba-hamba Allah yang yang ditahbis secara khusus, dan pekerjaannya semata-mata melayani Tuhan. Hamba-hamba Allah ini dalam Efesus 4; 11-12 dibedakan dalam lima jabatan ; Rasul, Nabi, Penginjil, gembala dan Guru Injil. Lewat kelima jabatan ini Allah melayani jemaatNya. Lewat kelima jabatan ini Allah mendirikan kerajaanNya didalam ibadah.

          Kelima jabatan Hamba Allah inilah yang berhak menggunakan perbendaharaan yang diperoleh lewat persembahan persepuluhan. Karena pada hakekatnya persembahan persepuluhan itu adalah ;

1.     Tanda dari orang yang mau tunduk/merendahkan diri dalam sistim kepemimpinan Allah.  Orang yang mengakui kepemerintahan Allah yang terselenggara lewat ibadah.
2.     Tanda bakti dari jemaat yang mau dirawat/diurus oleh Hamba Allah/ Pejabat Surga. Laksana domba yang mau dirawat/diurus oleh gembala.
3.     Tanda dari jemaat yang mempercayakan  segala permasalahan yang dihadapinya dan keselamatan kepada Allah, lewat pelayanan Lewi yang diberi persembahan.

Kemudian untuk Hamba Tuhan  ( Lewi ) yang diberi persembahan maka persepuluhan itu berarti;

1.     Tanggung-jawab sepenuhnya untuk membimbing dan menjadi penyalur berkat bagi jemaat yang memberikan perpuluhan.
2.     Tanggung-jawab sepenuhnya atas keselamatan jiwa dari jemaat yang memberikan persepuluhan.
3.     Tanggung-jawab sepenuhnya untuk mengatasi persoalan,problema yang dihadapi jemaat dengan cara-cara ilahi.

Jadi persembahan persepuluhan itu mengandung makna herarki yang sangat dalam. Yang didalamnya menyiratkan makna Kewajiban bagi jemaat dan sekaligus merupakan Hak-hak yang harus diterima oleh Kerajaan Surga.

          Dalam Kitab Wahyu pasal 11, menceritakan ketika keadaan manusia-manusia akhir jaman yang mulai melupakan persembahan persepuluhan. Imannya kanak-kanak, dan tidak memahami herarki surga, maka Allah memberikan hukuman menghancurkan sepersepuluh kota dan apa saja yang dibangun dari harta curian perbendaharaan surga. Yaitu dari sepersepuluh yang sudah tidak pernah lagi diberikan kepada Allah;

Pada waktu itu terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan sepersepuluh bagian dari kota itu roboh ,dan tujuh ribu orang mati oleh gempa itu dan orang-orang lain sangat ketakutan, lalu memuliakan Allah di Surga. ( Wahyu 11;13 )


TAHBISAN KEHIDUPAN NIKAH SURGAWI

          Seperti telah dijelaskan didepan bahwa Tahbisan merupakan suatu aturan etika yang berlakunya ditetapkan dan diresmikan oleh Allah. Maka yang disebut  dengan tahbisan Nikah Surgawi adalah suatu etika dalam hubungan nikah dan kekeluargaan menurut aturan Allah. Di jaman ini banyak keluarga-keluarga  Kristen yang hidup menyimpang dari etika surgawi, sehingga menimbulkan banyak masalah. Tanpa etika surgawi keluarga akan kacau, tidak memiliki tatanan, tanpa herarki dan akibatnya suasana akan menjadi panas.

Hai isteri tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri, sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. ( Efesus 5; 22-24 )

          Dalam hidup Nikah Surgawi, Allah telah meresmikan dan menetapkan suatu herarki supaya tercipta ketertiban. Keluarga adalah suatu cermin kecil dari suatu pemerintahan besar. Oleh karenanya, keluarga yang hidup dalam etika dan tahbisan yang benar menurut pola surgawi adalah cermin dari kerajaan Allah ( Pemerintahan Surga ).

         Seperti tertulis dalam Efesus 5 ; maka seorang suami bagi isteri, dan bapak bagi anak- anak adalah seorang Raja dalam suatu kerajaan kecil yang disebut Keluarga.  Kemudian isteri adalah orang terdekat dari suami adalah Permaisuri bagi Raja. Kemudian anggota-anggota keluarga yang lain adalah Pejabat-pejabat yang masing-masing memiliki tugas dan hak tersendiri.

          Di dalam kerajaan kecil yang disebut keluarga,Allah menghendaki supaya ada ciri dan teladan Kerajaan Surga. Allah menghendaki keluarga-keluarga Kristen menjadi miniatur  dari Kerajaan Surga. Keluarga menjadi Surga Kecil yang turun ke bumi seperti doa Tuhan  Yesus;

Datanglah kerajaanMu ,jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga. ( Matius 6; 10 )

Agar kerajaan Keluarga bercirikan kerajaan Surga maka harus ada herarki dan etika berkeluarga. Seorang Bapak atau suami adalah Sang Raja yang patut untuk dilayani, dihormati. Namun dalam kedudukan ini dia juga memikul tanggungjawab yang berat untuk keselamatan segenap anggota keluarga. Mampu menjadi pelindung dan pengayom bagi keluarga.

          Inilah posisi sebagai suami menurut Efesus5; 22-33. Dalam keluarga ada pula isteri yang berkedudukan sebagai Permaisuri. Dia juga memiliki hak dan tanggung jawab khusus sebagai seorang permaisuri yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Sementara itu ada juga anggota keluarga yang lain seperti ; anak, kakek, nenek dan sebagainya. Dalam keluarga mereka juga memiliki hak dan tugas-tugas khusus, yang kehadirannya tidak bisa digantikan oleh orang lain. Dan mereka juga adalah pejabat-pejabat kerajaan Keluarga. Masing-masing juga harus menempati tempatnya, sehingga ada rasa saling menghormati, saling menghargai, sehingga tercipta herarki yang indah dan tertib. Hargailah keluarga sebagai suatu Kerajaan ilahi, dengan suami sebagi Raja, Isteri sebagi Permaisuri, dan yang lain sebagai pejabat-pejabat kerajaan. Sehingga Terciptahlah suasana surga dalam kerajaan keluarga

          Jadi keluarga yang didambakan Allah adalah Keluarga yang berteladankan kerajaan surga. Anggaplah anggota-anggota keluarga sebagai pejabat-pejabat kerajaan yang semuanya patut untuk mendapatkan penghormatan dan hak-hak menurut posisinya masing-masing.

TAHBISAN YANG RUSAK   

          Oleh karena muslihat Iblis, jaman sekarang banyak keluarga yang hidup tanpa tahbisan. Hidup berkeluarga tidak menurut herarki dan etika Al Kitab. Akhirnya keluarga rusak dan kacau bagaikan suasana neraka.

          Ini semua akibat dari posisi-posisi jabatan / tahbisan yang ditentukan Allah dikacaukan dan dilanggar. Misalnya seorang isteri yang mengambil tenpatnya suami. Mungkin dalam penglihatan sepintas,  keluarga semacam ini berjalan juga. Namun dibalik itu sesungguhnya keluarga itu mengalami kegagalan, karena berjalan tidak sebagaimana mestinya.

          Mungkin kejadian semacam ini terjadi karena alasan-alasan khusus. Alasan emansipasi atau suami tidak mampu mengepalai keluarga, atau alasan-alasan lain yang seolah-olah masuk akal, dan bagus. Tetapi menurut pandangan Allah apapun alasannya ini adalah suatu kekacauan herarki, suatu kegagalan dalam menuruti firman Allah.

           Suasana Kacau ini disebut pula sebagai suasana Babel, yang tidak mengenal etika surga. Isteri mengambil tempat diatas, sementara itu yang   kedudukannya sebagai kepala (suami) ditempatkan dibawah. Ini suatu penjungkir-balikkan herarki, seperti yang ditulis dalam Kitab Wahyu 17;1-6, mengenai “ Wanita Sundal Babel”.

“Mari ke sini , aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar yang duduk ditempat yang banyak airnya. Dengan dia raja-raja di bumi telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya”. Dalam Roh aku dibawanya ke padang gurun. Dan aku melihat seorang perempuan duduk di atas seekor binatang, yang merah ungu , yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Binatang itu mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk. ( Wahyu 17;1-3 )

Teladan nikah/persekutuan “wanita sundal babel” adalah kebalikan dari teladan nikah surgawi ( Efesus 5; 22-33 )

          Dalam Nikah Illahi maka, suami ada diposisi atas dan isteri menempati tempatnya dibagian bawah, seperti halnya kepala diatas dan tubuh di bawah. Tetapi teladan nikah sundal babel ini terbalik. Wanita sundal babel berada di atas dan antikris ( Binatang berkepala tujuh bertanduk sepuluh ) berada di bawah.

           Demikian lembut tipu muslihat Iblis diakhir zaman untuk mengacaukan herarki Surga.Roh babel yang mengacaukan tahbisan ini secara lembut bekerja mengacaukan nikah-nikah manusia.

           Pada dasarnya Allah menciptakan manusia bukan untuk kekacauan melainkan untuk menempati kedudukannya / tahbisannya masing – masing. Serta supaya manusia memiliki hak-hak dan kemuliaan tertentu menurut kedudukannya tersebut.dan bila ketentuan etika surga ini dilaksanakan sungguh merupakan sesuatu yang terindah dalan hidup ini.

          Kalau misalkan ada orang yang melanggar etika surgawi ini, maka orang tersebut adalah orang yang gagal membangun keluarga. Misalnya dalam suatu keluarga seorang isteri mengambil posisi suaminya. Isteri manjadi raja dalam keluarga sementara itu suami diperintah dan diperlakukan seperti seorang wanita dengan tugas-tugasnya, suami tidak lagi dianggap sebagai kepala keluarga. Maka yang akan terjadi adalah kakacauan.  Orang tua sudah gagal memberi teladan nikah surgawi kepada anak-anaknya. Selanjutnya kedudukan Bapak akan terkucil dimata anak-anak. Dan ini merupakan pemicu timbulnya tindakan-tindakan negatif dalam keluarga.

          Karena merasa tersingkir dari jabatan Raja Keluarga maka seorang suami akan mudah melakukan tindakan-tindakan negatif dalam berbagai hal. Demikian pula Sang Isteri yang over-tahbisan menempati jabatan suami sebagai raja keluarga akan dengan mudah pula melakukan tindakan-tindakan negatif. Demikian pula anak-anak yang terbiasa melihat teladan-teladan yang salah, akan terbawa arus dan menjadi anak-anak yang tidak tahu etika.

          Salah satu sisi negatif dari penjungkir-balikkan tahbisan ini adalah timbulnya kejahatan-kejahatan. Bila direnungkan ternyata sangat benyak kejahatan yang terjadi karena kesalahan tahbisan. Misalnya banyaknya kejahatan yang dilakukan oleh Kaum Adam ( laki-laki /para suami yang tersingkir ),oleh karena tempat tempat pekerjaan setrategis Kaum Adam sudah diambil alih oleh kaum wanita. Dan sekalipun ada kejahatan yang dilakukan oleh kaum wanita, itu relatif tidak berbahaya dan akan lebih mudah diatasi. Ini jarang dilakukan penelitian, bahwa banyaknya kedudukan setrategis Kaum Pria yang ditempati oleh kaum Wanita, banyak mengakibatkan kejahatan.

KEKACAUAN TAHBISAN YANG MENYUSUP DITENGAH-TENGAH GEREJA.

          Di akhir jaman kekacauan tahbisan  tidak hanya merusak keluarga-keluarga Kristen, tetapi juga bisa menyusup ditengah-tengah komunitas yang lebih besar, misalnya persekutuan Gereja. Suatu persekutuan Gereja apabila tidak memperhatikan tanda-tanda adanya kepemimpinan Allah bisa terjerumus kepada peribadatan yang hampa dan tanpa penyertaan Kuasa Allah.

          Di dalam sauatu persekutuan gereja harus ada Tanda-tanda kepemimpinan Allah. Harus ada Gembala yang diurapi, dan berbicara atas-nama Allah dan disertai Kuasa Allah. Sehigga pelantikan jabatan Hamba Tuhan bukan datang dari manusia atau organisasi,melainkan suatu mandat dari Allah yang dibuktikan dengan tanda-tanda mujijat yang menyartai. Gembala bertugas mengkoordinir seluruh kegiatan peribadatan.

          Juga harus ada Penginjil, yang memiliki talenta khusus untuk menarik jiwa-jiwa datang dan percaya kepada Kristus. Seorang Penginjil biasanya ditandai dengan penyertaan mujijat kesembuhan dan lain-lain. Rasul adalah seorang yang diberikan talenta dan Wahyu secara khusus untuk meletakkan dasar-dasar Pengajaran bagi seluruh jemaat. Nabi adalah seorang yang diberi kemampuan Khusus untuk bisa menyelidik seluruh keadaan rohani jemaat. Mengetahui bahwa seorang jemaat sedang terjatuh dalam dosa atau tidak.  Guru Injil juga sangat dibutuhkan dalam Persekutuan Gereja. Yaitu Hamba Tuhan yang memiliki talenta khusus untuk mendidik, dan mengajar.

          Dan Hamba-hamba Allah dengan jabatan-jabatan tersebut bahu-membahu membangun jemaat. Dan Allah pasti memberikan suatu tanda untuk setiap Hamba yang dilantikNya.

          Hakekat ibadah yang benar adalah suatu acara yang diadakan untuk memahami dan mengerti kehendak Allah. Ibadah itu bukan untuk menuruti kemauan manusia, ibadah juga bukan hiburan. Bahkan kadangkala orang harus ditegur keras dosa-dosanya saat ibadah, dan itu adalah menyakitkan, namun kemudian akan berakibat baik.

          Ibadah dalam suatu persekutuan Gereja dinyatakan berhasil apabila didalam ibadah tersebut Kehendak Allah dinyatakan. Dan ibadah dalam suatu persekutuan Gereja dinyatakan tidak tepat sasaran, manakala dalam ibadah tersebut kehendak manusia lebih menonjol.

         Dalam Sistim herarki yang tepat maka Seorang Hamba Allah dengan berani akan berkhotbah dan menyatakan kebenaran. Tanpa adanya intervensi dari pihak manapun baik dari suara daging, laporan jemaat dan berbagai macam informasi yang diterima sebelum berkhotbah. Hamba Allah yang memiliki kemerdekaan dan keberanian menyatakan Suara Roh Kudus adalah Hamba yang berhasil. Dari sinilah ibadah yang sejati terjadi.

          Sebaliknya bila terjadi kesalahan herarki ada kalanya seorang pelayan Tuhan, terlalu mendengarkan laporan-laporan orang, atau informasi-informasi sebelum berkhotbah. Dan khotbahnya menjadi gagal karena tidak menyuarakan kehendak Tuhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar